Dosen Tetap

RASIO DOSEN : MAHASISWA

1 : 27

Dari segi kecukupun jumlah dosen tetap di FKIP, rasio dosen dan mahasiswa mencapai 1:27, yaitu Pendidikan Bahasa Inggris rasio dosen dan mahasiswa 1:34, Pendidikan Bahasa Indonesia 1:12, Pendidikan Guru Sekolah Dasar 1:35. Jadi, secara umum berada pada kondisi cukup meskipun ada prodi yang kekurangan mahasiswanya, yaitu prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Untuk mengatasi tingkat kecukupan rasio dosen dan mahasiswa tersebut dilakukan dengan mengangkat dosen honorer (dosen tidak tetap) yang berasedia mengajar dan mengabdi. Kriteria untuk dapat diangkat menjadi dosen tidak tetap tersebut adalah (a) pensiunan atau lulusan kependidikan perguruan tinggi, (b) kualifikasi pendidikan minimal S2, (c) memiliki kompetensi keilmuan yang linier/relevan dengan mata kuliah yang diajarkan atau linier dengan program studi yang membutuhkan. Akan tetapi, dosen tidak tetap tidak selalu ada pada setiap program studi di lingkungan FKIP. Sampai saat ini program studi yang masih menerima dosen honorer adalah Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

DOSEN FKIP  

Laporan Data Dosen

KUALIFIKASI DOKTOR (S3)

6 Dosen (26,1%)

TOTAL DOSEN TETAP

23 DOSEN

KUALIFIKASI MAGISTER (S2)

17 Dosen (73,9%)

Dalam hal kualifikasi pendidikan tenaga pendidik, Universitas Bosowa atau FKIP menerapkan persyaratan setiap dosen harus memiliki kualifikasi pendidikan minimal magister (S-2). Kalau masih ada dosen yang belum memenuhi syarat tersebut, pihak fakultas mendorong dosen untuk mengikuti pendidikan lanjutan sesuai dengan bidang keahliannya. Sekarang di FKIP tidak ada lagi dosen yang berkualifikasi S-1. Tingkat pendidikan dosen FKIP rata-rata memiliki kualifikasi S-2, baru 6 orang yang berpendidikan S-3 dan ada 5 orang yang sedang menyelesaikan program S-3. Untuk memenuhi syarat kualifikasi pendidikan, pimpinan fakultas selalu memotivasi dosen untuk melanjutkan studi ke jenjang S-3 yang linier agar terjaga kualitas pembelajaran yang lebih baik dan menghasilkan lulusan sesuai dengan yang telah ditargetkan. Guru besar yang ada di FKIP sekarang baru 1 orang. Kondisi ini memacu fakultas dan program studi untuk terus memotivasi dosen yang sudah S-3 untuk memenuhi syarat memperoleh guru besar.

Untuk mengembangkan karier dosen, fakultas bersama prodi berupaya mendorong dosen mengikuti kegiatan seminar nasional/internasional, lokakarya Pekerti dan Akta V-AA serta menugasi dosen mengikuti diklat seperti diklat audit mutu internal, penulisan jurnal ilmiah, pembuatan proposal penelitian, pembimbingan tugas akhir, dan pembimbingan akademik. Dengan mengikuti program tersebut karier dosen menjadi lebih baik lagi karena dari berbagai diklat tersebut, dosen dapat memiliki tugas tambahan sesuai dengan pengalaman yang didapatkan melalui pendidikan dan pelatihan sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas praktik tridharma di FKIP ke depan.

Tenaga Kependidikan

Dilihat dari segi kecukupan, tenaga kependidikan yang diberi tugas sebagai tenaga administratif dan sebagai tenaga laboratorium sudah mencukupi karena fakultas telah memetakkan tenaga kependidikan secara proporsional dan sesuai dengan kebutuhan, baik untuk tenaga kependidikan yang ada di fakultas maupun yang ada di prodi. Namun, khusus untuk tenaga laboran dalam arti yang sesungguhnya masih belum tesedia.

Tenaga laboran yang ada pada laboratorium FKIP masih dikelola oleh tenaga pendidik (dosen) pengampu mata kuliah. Laboratorium bahasa yang ada di FKIP tidak dikelola oleh setiap program studi. Hal ini dilakukan karena setiap program studi yang terkait dengan bahasa memiliki kebutuhan yang sama dalam hal laboratorium bahasa. Untuk itu, pengelolaannya dilakukan di tingkat fakultas dengan biaya operasional didukung oleh anggaran setiap program studi. Untuk laboratorium bahasa dan microteaching yang ada, fakultas menempatkan tenaga kependidikan yang berpengalaman untuk pekerjaan yang ada pada kedua laboratorium tersebut atau pernah menangani peralatan yang tidak jauh berbeda dengan peralatan yang ada pada kedua laboratorium itu. Untuk pengelolaannya kami menunjuk salah seorang dosen sebagai Ketua Laboratorium Bahasa dan Microteaching.

Berdasarkan kualifikasi pendidikan, tenaga kependidikan yang ada di FKIP sudah mencerminkan proporsionalitas yang baik karena FKIP memiliki SDM dengan kualifikasi pendidikan S2= 1 orang, S1 = 1 orang, D3 = 1 orang, SLTA= 2 orang, dan SLTP = 1 orang. Kualifikasi pendidikan SLTP bekerja sebagai anggota keamanan dan tenaga kebersihan. Sementara itu, untuk mendukung tugas pokok lembaga, FKIP memiliki tenaga kependidikan dengan kualifikasi bidang ekonomi manajemen (S-1 dan S-2). Tenaga kependidikan dalam bidang ekonomi manajemen bertugas mengelola keuangan dan administrasi fakultas. Tenaga kependidikan yang memiliki keahlian dalam bidang IT ditugaskan untuk mengelola jaringan web tidak ada di fakultas, tetapi berada di tingkat universitas. Demikian juga, tenaga pustakawan tidak ada di tingkat fakultas, tetapi berada di tingkat universitas karena kebijakan universitas keberadaan perpustakaan dilaksanakan secara terpusat. Meskipun demikian, di fakultas terdapat ruang baca untuk buku-buku referensi yang dikelola petugas yang ditunjuk fakultas yang melibatkan tenaga administrasi dan dari mahasiswa. Dalam ruang baca itu terdapat bahan pustaka yang terkait dengan prodi secara langsung sehingga lebih banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa.

Pada prinsipnya keberadaan tenaga kependidikan di fakultas diatur di tingkat universitas dengan mekanisme rolling sesuai dengan permintaan dan kebutuhan. Hal ini dilakukakan untuk mengatasi kejenuhan dan meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Dalam hal pengembangan tenaga kependidikan, fakultas memberikan dukungan kepada setiap tenaga kependidikan yang berminat untuk menempuh jalur pendidikan yang lebih tinggi. Namun, terdapat kendala terkait denngan pengembangan tenaga kependidikan, yaitu minimnya reward dan punishment terhadap kinerja tenaga kependidikan.